Impian yang Mekar di Musim Semi : Bagian 1

Sepulangnya dari Odaiba, aku tidur-tiduran di kamar sambil membalas beberapa chat dari teman-teman dan membuka beberapa sosial media. Ketika aku membuka Instagram, satu postingan dari kakakku menahan pandanganku. Di sana terpampang fotoku dan bunga sakura yang sore tadi sempat aku kirimkan ke kakakku, lengkap dengan caption-nya.

"Keep on figthing for your higher dream, make it come true, like what you've done."

Aku terdiam. Tanpa sadar air mata sudah mengumpul di pelupuk mataku.

Malam itu, tangisan pertama di Tokyo pun akhirnya jatuh.

***

Aku memandangi nomor tempat duduk di boarding pass-ku. Setelah berjalan agak jauh dari pintu masuk pesawat, akhirnya aku menemukan nomor tempat dudukku. Di sebelahku sudah duduk seorang ibu-ibu yang sepertinya juga berasal dari Indonesia. Benar, karena beliau berbicara bahasa Indonesia.

"Mau kemana?" tanya Ibu itu ketika kami sudah mengudara.
"Ke Tokyo, Bu," jawabku.
"Ada perlu apa? Kuliah?"
Aku tersenyum. Sambil berbisik kata aamiin di benakku sendiri, aku menjawabnya, "Nggak, Bu. Ada program culture exchange seminggu aja."

Setelah menggumamkan kata "oh", kami kembali ke mode diam kami masing-masing. Aku belum terlalu nyaman ngobrol dengan orang yang pertama kali ditemui, jadi sepanjang perjalanan transit ke Hongkong, diam adalah suasana yang menyelimuti kami.

Setelah terbang selama hampir 7 jam, akhirnya pesawat mendarat di Hongkong International Airport. Di sini aku akan transit sebelum akhirnya terbang lagi ke Tokyo jam 1 pagi waktu setempat. Setelah pesawat sudah lumayan sepi, aku beranjak dari tempat dudukku dan berjalan menuju pintu keluar. Sapaan "thank you" diucapkan oleh pramugari, sebelum akhirnya aku keluar dan udara dingin malam di Hongkong menyapaku. Merapatkan jaket, aku sempat memadangi lapangan bandara ini, melihat ke suasana Hongkong.

Setelah ini, semuanya akan kulakukan hanya dengan diri sendiri.

Ya, aku akan berangkat dan pulang sendiri nanti, meski akhirnya di Tokyo nanti aku akan bertemu dengan teman-teman satu perjalanan. Hal ini menjadi pengalaman yang sangat baru buatku. Sampai di umurku yang ke-23 ini, aku sama sekali nggak pernah naik pesawat sendirian, atau bahkan melakukan perjalanan ribuan kilometer sendirian. Selalu ada yang menemaniku, entah itu orang tua atau teman-teman. Jadi, dengan perjalanan dari Jakarta ke Tokyo yang transit di Hongkong sendirian adalah hal yang sama sekali tidak pernah kupikirkan.

Semua berawal dari satu pesan di chat room-ku dengan admin program ini. Saat itu, aku menerima pesan di tengah istirahat kelasku di malam hari. Kata kata seperti "karena teman satu pesawat mengundurkan diri, kamu akan berangkat sendiri" langsung menghujam pikiranku. Dan setelah itu, satu persatu kekhawatiran mulai masuk, dari mulai transitnya gimana sampai gimana cara ngasih tau soal hal ini ke orangtua. Waktu kakak admin bertanya apakah aku nggak papa kalau berangkat sendirian, rasa was-was masih menyelimutiku. Tapi aku tahu, tidak ada waktu untuk kembali, hal ini harus dihadapi. Sambil mengetik kata "ya", akhirnya aku mulai mencari-cari informasi soal bepergian ke luar negeri sendiri terutama cara transit di Hongkong, kemudian kugabungkan dengan informasi yang diberikan kakak admin.

Sepertinya segala pencarian informasi itu sangat berguna ketika aku sampai di airport. Salah satu info menyebutkan bahwa aku tinggal pergi ke wilayah transfer dan jangan sampai masuk imigrasi, yang sebenarnya juga tertulis di amplop boarding pass. Setelah foto-foto sedikit di tulisan Welcome to Hongkong di pintu masuk, aku beranjak ke daerah yang menurut petunjuk adalah wilayah transfer.

Karena tadi sempat memakan waktu di pintu masuk, maka antrian di wilayah transfer sudah tinggal sedikit, bahkan aku ada di barisan paling akhir. Aku lihat ada rombongan dari Indonesia yang sepertinya akan melanjutkan perjalanan ke Eropa. Dalam hati aku berharap kalau saja aku juga punya teman seperjalanan. Tapi semuanya sudah terjadi dan kenyataannya aku sendiri, itu yang ada di pikiranku sampai aku melewati security check. Karena setelah itu, sebuah kalimat mengagetkanku.

"Mau kemana, Dek?"

Aku menoleh. Di dekatku ada dua orang laki-laki dari Indonesia. Aku menjawab kalau aku mau ke Tokyo. Salah satu dari mereka bertanya lagi apakah aku sendirian dan aku jawab ya tapi nanti bakal ketemu teman-teman lain waktu udah sampai. Mereka mengatakan semacam wah hebat sendirian kemudian bertanya-tanya seputar kuliah dimana dan sebagainya. Mereka juga menawarkan untuk ikut mencari tempat sholat bareng.

Dan sejak saat itu, perjalanan transitku tidak lagi sendirian.

Di tempat sholat kami bertemu beberapa orang Indonesia lagi. Ada yang juga transit untuk ke Tokyo, ada yang baru pulang dari Amerika, dan sebagainya. Bahkan salah satu dari mereka sempat gabung bersama kami untuk membunuh waktu sampai waktu keberangkatan kami masing-masing. Dan ketika sudah waktunya kami untuk berangkat, kami berpisah. Aku kembali melanjutkan perjalananku sendirian, namun kali ini diselipi satu keyakinan bahwa semuanya memang akan baik-baik saja, terbukti dengan tidak terbuktinya segala kekhawatiranku selama ini tentang perjalanan sendirian. Karena kenyataannya, ya, semuanya memang akan baik-baik saja.

Pesawat dari Hongkong membawaku ke Tokyo di pukul 1 pagi waktu Hongkong. Setelah perjalanan yang hampir 6 jam, akhirnya aku mendarat di Tokyo. Dengan disambut udara pagi Tokyo yang hampir sama dinginnya dengan udara malam Hongkong, aku menginjakkan kaki pertama kali di negara yang sudah ada dalam impianku sejak sepuluh tahun yang lalu ini.

Tokyo, aku datang!

***

Jepang terkenal dengan tingkat kriminalitasnya yang rendah, setidaknya itu yang sering aku baca di banyak artikel. Kalau barang kita ketinggalan di suatu tempat, ia akan tetap ada di sana ketika kita kembali mencarinya. Hal ini sempat ingin aku buktikan demi menjawab penasaranku soal Jepang. Sambil menunggu jam berkumpul dengan teman-teman lain, aku menge-charge handphone-ku di charging station Terminal 2 Narita. Charging station ini unik menurutku, karena ini pertama kalinya aku liat tempat charge yang hanya meja panjang dengan stop kontak tanpa loker atau kaca. Benar-benar tanpa penghalang. Karena handphone juga tinggal 30%-an dan perjalanan masih panjang, akhirnya aku menge-charge handphone-ku di sana. Dan demi membuktikan rasa penasaran, akhirnya aku tinggal buat explore bandara.

Sekitar satu jam aku jalan-jalan di sekitar Terminal 2 dan 3 ini. Ke toilet, jalan-jalan di tempat check in, sampai ke mall-nya. Waktu itu aku tidak menemukan tempat untuk memecahkan uang karena uang yang aku bawa nominal tertinggi semua. Akhirnya aku beli boneka ayam yang akhirnya mendapat pecahan sampai ke uang logam. Setelah puas jalan-jalan akhirnya aku menuju ke charging station lagi. Sedikit kesasar karena ternyata aku hampir aja masuk ke arah penerbangan domestik, hingga akhirnya sampailah lagi di tempat handphone-ku berada.

Dan benar! Dia masih ada di sana dengan posisi yang sama seperti waktu aku meninggalkannya. Sambil melepas kabel charger, aku tersenyum. Satu kekagumanku akan Jepang akhirnya terbukti.

Waktu sudah menunjukkan hampir pukul 11, artinya sudah dekat waktu kami berkumpul. Sambil terus chatting sama teman-teman, aku mencari meeting point yang katanya di Terminal 1 South. Selama berkeliling bandara tadi aku sama sekali tidak menemukan tanda-tanda keberadaan meeting point Terminal 1, karena yang kulihat hanya Terminal 2 dan 3. Akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya ke salah satu petugas. Beliau menjelaskan bahwa kalau mau ke Terminal 1 aku harus naik bis. Jadilah aku akhirnya keluar bandara untuk menuju tempat pemberhentian bis yang akan menuju Terminal 1. Udara dingin--yang setelah aku cek ternyata mencapai 12 derajat celcius--kembali menusuk kulitku. Sambil merapatkan jaket aku masuk ke bis yang masih terisi 2 orang itu. Tak lama bis itu pun berangkat, dan rasanya kayak ada di drama Jepang yang sering aku lihat ketika tokohnya bepergian ke sekolah dengan menggunakan bis. Ahaha~

Akhirnya sampailah aku di Terminal 1. Setelah sempat kesasar lagi karena salah masuk ke North sedangkan meeting point-ku ada di South, akhirnya aku bertemu dengan teman-teman seperjalananku: Dayu dan Novi dari Denpasar, dan Rezhi dari Samarinda. Ya, kami hanya berempat. Dan menurut Mas Gilang, person in charge perjalanan ini, kami adalah rombongan tersedikit. Tapi terima kasih akan hal itu karena ternyata kami cepat akrabnya. Karena itu, perjalanan dari bandara sampai ke penginapan dengan menggunakan subway kami lewati dengan menyenangkan. Kami bersitirahat selama sekitar 3 jam sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan ke Akihabara.

Di Akihabara ini Rezhi ternyata udah janjian sama kenalannya, seorang bapak-bapak yang pernah ke Indonesia. Teman perjalanan kami bertambah satu, yang akhirnya menemani kami ke toko elektronik yang berlantai-lantai di Akihabara. Beliau orangnya asik, enak diajak ngobrol. Waktu aku baru dari ke toko CD dan aku bilang baru beli album idol group Jepang pun beliau bertanya, "Johnny's ya?" yang langsung dengan bahagianya aku jawab ya. Beliau bertanya lagi apa nama grupnya dan aku jawab NEWS. Aaah senang sekali bisa bertemu yang mengerti apa yang aku suka haha (iyalah El kan lagi di negara tempatnya NEWS).

Kami hanya sebentar saja di Akihabara karena sekitar setengah 9 kami harus pulang biar nggak kemalaman. Setelah berpamitan dengan beliau dan foto-foto, akhirnya kami menuju stasiun lagi untuk menaiki subway menuju penginapan. Malam itu aku tiduran sambil merenung memandangi langit-langit kamar, rasanya tidak ingin tidur aja. Tapi karena udah capek dan waktu istirahat 3 jam tadi malah aku gunakan untuk nonton TV, akhirnya aku terlelap.

Narita, Akihabara, terima kasih untuk pengalaman hari pertamanya.

***

"Cowok Jepang itu kayak gimana, ya?"

Kalimat itulah yang mengawali perjalanan kami di hari kedua. Pembicaraan ini sepertinya dipicu dari pengalaman hari pertama kami di Jepang yang memang banyak ketemu mas mas good looking. Kami cekikikan sambil mengingat ada mas mas maskeran cakep waktu di subway. Sejenak terlintas bayangan mas mas NEWS yang jadi konsumsiku(?) setiap hari lewat layar laptop itu. Yaah, salah satu contoh good looking, kan? Haha~

Destinasi pertama di hari kedua ini adalah Taman Ueno. Sebenarnya menurut rundown sih kami akan ke sini hari keempat. Tapi karena di hari keempat pesawatku jam setengah 9 pagi, maka rencana ke Taman Ueno dimajukan jadi hari kedua, toh tempatnya juga nggak jauh dari destinasi kedua yang awalnya jadi yang pertama.

Taman Ueno, satu kata, excited! Dari dulu selalu pengen bisa ke sini karena reputasinya sebagai taman populer untuk hanami. Sebenarnya waktu kami datang itu periode sakura di Tokyo memang udah mulai menipis. Jadi sambil harap harap cemas kami mencari sisa sisa sakura yang ternyata masih ada! Meski udah mulai tumbuh daun dauhn hijau, setidaknya bunga pink khasnya masih ada yang tersisa.

Satu impian tercentang: melihat sakura.

Karena tepat pukul 10 kami sudah harus ada di destinasi kedua, jadinya kami agak buru buru di Taman Ueno dan lari cepat buat ke stasiun. Dari stasiun pun harus jalan, hingga akhirnya kami sampai. Destinasi kedua kami: Intercultural Institute of Japan.

Bisa dibilang ini salah satu agenda utama kami ke Jepang, yaitu belajar bahasanya. Dan ya, kami belajar bahasa Jepang dasar di sini mulai dari perkenalan sampai menulis kaligrafi huruf Jepang atau shodo. Yang paling aku suka di sini adalah, dari semua kegiatan belajar bahasa Jepang yang pernah aku ikuti, baru kali ini aku merasakan diajar hanya dengan gambar dan bahasa tubuh. Tidak ada bahasa Inggris apalagi bahasa Indonesia, hanya kata kata dalam bahasa Jepang dan gambar gambar yang mewakili kata tersebut. Seru banget! Aku pikir, metode ini sepertinya sangat berguna buat belajar bahasa asing, karena beliau menjelaskan dengan visual jadi lebih nangkep. Agenda setelah belajar bahasa Jepang adalah menulis kaligrafi. Di sini kami latihan berlembar lembar huruf Jepang yang diakhiri dengan menulis kata dalam bahasa Jepang favorit. Aku menuliskan "yuuki (勇気)" atau keberanian. Karena "keberanian" sepertinya merupakan tema utama dari keseluruhan perjalananku di Jepang ini.

Kami menghabiskan waktu sekitar 2 jam di Intercultural Institute of Japan ini. Setelah berpamitan dengan sensei-tachi, akhirnya kami melanjutkan ke destinasi selanjutnya yaitu Sensoji Temple dan Tokyo Sky Tree.

Excited kembali menjadi kata utama buatku, sama seperti waktu di Taman Ueno. Gimana nggak, karena di sini aku pertama kali nyobain pake kimono dan ikut upacara minum teh atau chanoyu. Kami juga dibawa ke menara tertinggi di Jepang, Tokyo Sky Tree. Meski salah satu impianku adalah ke Tokyo Tower (yang bahkan fotonya udah ada di dinding kosan sejak tahun lalu), Tokyo Sky Tree ini langsung menjadi salah satu tempat favorit meski sebelumnya belum pernah tertarik. Sayang sekali kami nggak masuk ke menaranya mengingat keterbatasan waktu. Karena selanjutnya kami akan ke Odaiba!

Di Odaiba ini kami akhirnya bisa liat laut. Sudah mulai sore jadi langit menguning sehingga tambah dramatis. Rainbow Bridge yang sempat kami lewati di perjalanan menggunakan kereta tanpa awak ini terlihat cantik di seberang sana. Di sini juga ada satu pohon sakura yang masih mekar meski udah dihiasi dengan daun daun hijau. Kusempatkan berfoto lagi dengan sakura dan kukirimkan foto itu ke kakak dan orangtuaku. Aku tersenyum melihatnya, karena sekali lagi aku bisa sedekat ini dengan sakura.

Langit sudah semakin gelap dan sudah waktunya kami untuk makan malam. Dengan pemandangan Rainbow Bridge dan langit malam sebagai background-nya, kami menikmati makan malam di salah satu tempat makan di dalam Aqua City.

Saat itulah aku mulai berpikir bahwa..., ah besok hari terakhirku di Jepang ya...

Seketika perasaan sendu mulai memenuhi hatiku. Sebenarnya ini hanya berlaku untukku karena ketiga temanku extend sampai Minggu. Dengan kenyataan bahwa tidak lama lagi aku akan meninggalkan Tokyo membuatku akhirnya mengabadikan sebanyak banyaknya foto di Odaiba. Sambil mengikuti rombongan yang mengitari Odaiba, aku lari buat kabur sejenak dan memotret pemandangan di salah satu sisi sebelum akhirnya lari lagi menyusul teman teman. Begitu seterusnya. Berkedok alasan "biar nggak dingin makanya aku lari-lari", padahal sebenarnya buat melupakan rasa sedih itu.

Dan ketika di perjalanan pulang dengan kereta tanpa awak lagi pun aku masih terjaga. Di tengah teman temanku yang mulai memejamkan mata, aku memandang jauh ke suasana malam Tokyo, menangkap setiap detilnya. Gedung gedungnya, jalanannya, dan bahkan sempat menangkap Tokyo Tower yang bersinar oranye. Aku akan merindukan semua ini, begitu pikirku.

Sepulangnya dari Odaiba, aku tidur-tiduran di kamar sambil membalas beberapa chat dari teman-teman dan membuka beberapa sosial media. Ketika aku membuka Instagram, satu postingan dari kakakku menahan pandanganku. Di sana terpampang fotoku dan bunga sakura yang sore tadi sempat aku kirimkan ke kakakku, lengkap dengan caption-nya.

"Keep on figthing for your higher dream, make it come true, like what you've done."

Aku terdiam. Tanpa sadar air mata sudah mengumpul di pelupuk mataku.

Malam itu, tangisan pertama di Tokyo pun akhirnya jatuh.

Sebelumnya aku berpikir bahwa aku mungkin akan menangis di hari pertama menginjakkan kaki di sini. Tapi ternyata, di kesendirian malam ini air mata itu tiba-tiba jatuh. Air mata itu mengalir tanpa bisa aku hentikan. Terbayang berbagai usaha yang pernah aku lakukan selama ini demi menggapai Jepang. Terbayang berbagai kegagalannya, berbagai kalimat remeh dari orang lain.

Semuanya terbayar di sini, sekarang. Semua usaha diri di masa lalu terbayar, dengan sangat indah.

Dan di tengah keheningan malam itu, aku mem-posting foto Tokyo Sky Tree di Instagram-ku, lengkap dengan caption yang mewakili perasaanku kala itu.


Seseorang pernah mengatakan bahwa jika impianmu tidak tinggi dan tidak membuatmu frustasi dalam perjalanan menggapainya, tidak selalu kau pikirkan dan tidak membuatmu berdebar setiap memikirkannya, berarti ada hal yang harus diperbaiki dari impian tersebut. Entah tingkatannya, entah diri kita yang malah merendahkan standar diri sendiri. Padahal sebenarnya kitalah yang seharusnya meninggikan posisi bukan impiannya yang kita rendahkan posisinya.

Jadi biarkan impian itu tetap berada di tingkat yang tinggi, dan yang bisa kita lakukan adalah meng-upgrade diri sendiri agar bisa sejajar dengan impian itu...

Ueno, Asakusa, Odaiba, terima kasih untuk hari kedua ini...

________

Prolog
Bagian 2

Komentar